Jumat, 21 Juli 2017

Andai Saja...

Ketahuilah, foto kita berdua masih ada padaku. Tidak hanya terpampang di akun Instagram pribadiku, tapi aku juga memakainya sebagai wallpaper laptop setelah kau pergi Dari kota ini. Setiap kali ku buka laptopku, aku seringkali teringat pada kenangan yang ada dan tersenyum sendiri. Aku selalu seperti itu, entah di rumah ataupun di kelas.
Tak jarang, semua mata tertuju padaku. Mereka mungkin menganggapku gila karena aku tersenyum pada wallpaper laptop. Tapi pernahkah aku peduli? Aku bahkan tidak pernah menganggap mereka ada. Aku hanya peduli pada apa yang membuatku tersenyum.
Sebagian besar dari mereka hanya mengejekku saja. Sesekali, mereka mencoba memancingku secara perlahan, agar mereka tahu siapa yang terlihat berdiri berdampingan denganku di foto itu. Tapi apa mereka berhasil? Huh tidak! Mereka hanya mendapat lelah. Ya, tepat sekali, hanya lelah.
Hingga pada suatu hari aku dihadapkan dengan situasi yang sangat berbeda. Pertanyaan yang sangat memancing itu datang lagi, tapi bukan datang dari mulut-mulut jahat. Pertanyaan itu datang dari orang berhati mulia. "Ahh, mungkin maksudnya hanya bertanya saja. Lagi pula, bahasanya tidak berubah, masih dalam bahasa yang sopan." Pikirku saat itu. sambil melihat ke arah wallpaper laptopku, orang berhati mulia itu bertanya, "siapa Yang berdiri bersamamu di foto itu, Dhawy? Dan mengapa tiba tiba tersenyum sendiri? Apa itu kakakmu?" Kemudian aku pun menjawab, "tidak pak, bukan. Bisa dianggap sebagai sebuah contoh orang yang sangat menekuni bidang studinya Dan cukup berhasil. Bukan kakak saya... mungkin saya akan menjadi adik paling beruntung di dunia jika kakak saya seperti beliau." Jawaban itu tercetus begitu saja dari hatiku.  Yang bicara saat itu bukan hanya mulut saja, tapi juga hati dan perasaan. Itulah yang sudah pasti terjadi saat hati dan perasaan tidak mampu menyembunyikan kegundahan. Kegundahan yang disebabkan oleh sebuah perpisahan.
Cerita ini tidak berakhir begitu saja. Sejak saat itu, aku sangat sering berandai-andai. Andai saja aku benar-benar adikmu. Pasti beruntung punya kakak seperti dirimu. Berkualitas, ramah, berwawasan luas, unik, dan Santun. Sayang sekali,  kenyataannya berbeda. Aku ditakdirkan untuk tidak mempunyai hubungan saudara denganmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar