Pagi ini, ku coba tuk renungkan apa yang telah ku lakukan. Ku gali segala macam kenangan. Ku ingat kembali semua kesalahan. Ternyata, di memoriku semua itu masih tersimpan.
Ku coba tuk terus mengingat. Ku biarkan ingatanku berputar. Ku biarkan semua kenangan terbuka. Ku biarkan pula hatiku memberitahu kesalahan apa yang masih ku perbuat sampai detik ini.
Tiba-tiba saja, hati dan perasaanku tertuju pada sebuah peristiwa. Peristiwa yang terus dan terus terjadi sejak dia tinggalkan kota ini. Dan aku pun mulai menangis, menyesali perbuatanku. Selama ini, aku selalu memikirkan dia. Dia yang pernah mewarnai hidupku, tapi sekarang berada di luar jangkauanku.
Aku tidak pernah mau menghargai kebaikan yang diberikan dengan tulus dan ikhlas oleh yang lain. Aku bahkan tidak begitu terbuka padanya. Memang benar, aku tidak pernah memandangnya dengan sinis. Tapi, tetap saja aku salah. Tidak menghargai apa yang dilakukan orang lain adalah hal yang salah, meskipun kita tidak pernah memandang orang itu dengan sinis.
Benar, tidak menghargai sebagian orang sudah menjadi sifatku yang sangat mewatak. Sudah pasti, sifat itulah yang harus ku hilangkan. Aku sangat yakin, inilah jawaban Dari renungan pagiku.
Kamis, 27 Juli 2017
Jumat, 21 Juli 2017
UNGKAPAN KERINDUAN
Melupakan bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi melupakan orang seperti dirimu. Aku tahu, rasa rindu ini mungkin hanya akan menyesakkan dada. Aku tahu, setiap Tetes air mata yang ku jatuhkan untukmu tak bisa mencegah keputusan bulat yang telah kau buat. Tapi aku percaya, semua ini akan terbayarkan oleh momen yang Indah. Momen di mana aku bisa menjabat Tanganmu lagi, momen di mana kau bisa melihat senyum lebar dari wajahku, Dan tentu saja momen di mana aku bisa mendengar suaramu Yang mencerminkan keramahan. Cepat atau lambat, momen itu pasti akan terwujud.
Aku sangat merindukanmu. Hari-hariku selalu dipenuhi oleh bayanganmu. Aku sangat merindukanmu. Ingatanku selalu tertuju padamu setiap kali ku datangi tempat itu. Tempat di mana kau Ajari aku banyak hal Dan tempat di mana kenangan manis bersamamu tercipta.
Aku sangat merindukanmu. Seringkali tangisku menjadi tak tertahankan ketika ku masuki ruangan itu. Ruangan yang menjadi tempat kita berbagi tawa. Ruangan yang menjadi tempatmu mengamalkan ilmu yang kau punya. Aku sangat merindukanmu. Sekali lagi ingatanku selalu tertuju padamu. Terutama saat ku raba kursi dan meja itu. Kursi yang biasa kita duduki Dan meja yang selalu ada di hadapan kita saat itu.
Aku sangat merindukanmu. Rasanya ingin sekali ku putar waktu ini, agar saat-saat tak terlupakan bersamamu bisa terulang kembali. Aku sangat merindukanmu. Merindukan saat saat di mana aku masih bisa belajar banyak darimu. Tidak hanya belajar banyak dalam bidang studi yang kau ajarkan,tapi juga belajar banyak dalam ilmu-ilmu kehidupan.
Aku sangat merindukanmu. Merindukan caramu memberi semangat. Merindukan keunikanmu. Dan tentu saja merindukan sosok paling berkualitas yang pernah ku temui. Aku sangat merindukanmu. Semoga Tuhan selalu Menjagamu dimanapun kau berada. Aamiin... 🙏🙏🙏
Andai Saja...
Ketahuilah, foto kita berdua masih ada padaku. Tidak hanya terpampang di akun Instagram pribadiku, tapi aku juga memakainya sebagai wallpaper laptop setelah kau pergi Dari kota ini. Setiap kali ku buka laptopku, aku seringkali teringat pada kenangan yang ada dan tersenyum sendiri. Aku selalu seperti itu, entah di rumah ataupun di kelas.
Tak jarang, semua mata tertuju padaku. Mereka mungkin menganggapku gila karena aku tersenyum pada wallpaper laptop. Tapi pernahkah aku peduli? Aku bahkan tidak pernah menganggap mereka ada. Aku hanya peduli pada apa yang membuatku tersenyum.
Sebagian besar dari mereka hanya mengejekku saja. Sesekali, mereka mencoba memancingku secara perlahan, agar mereka tahu siapa yang terlihat berdiri berdampingan denganku di foto itu. Tapi apa mereka berhasil? Huh tidak! Mereka hanya mendapat lelah. Ya, tepat sekali, hanya lelah.
Hingga pada suatu hari aku dihadapkan dengan situasi yang sangat berbeda. Pertanyaan yang sangat memancing itu datang lagi, tapi bukan datang dari mulut-mulut jahat. Pertanyaan itu datang dari orang berhati mulia. "Ahh, mungkin maksudnya hanya bertanya saja. Lagi pula, bahasanya tidak berubah, masih dalam bahasa yang sopan." Pikirku saat itu. sambil melihat ke arah wallpaper laptopku, orang berhati mulia itu bertanya, "siapa Yang berdiri bersamamu di foto itu, Dhawy? Dan mengapa tiba tiba tersenyum sendiri? Apa itu kakakmu?" Kemudian aku pun menjawab, "tidak pak, bukan. Bisa dianggap sebagai sebuah contoh orang yang sangat menekuni bidang studinya Dan cukup berhasil. Bukan kakak saya... mungkin saya akan menjadi adik paling beruntung di dunia jika kakak saya seperti beliau." Jawaban itu tercetus begitu saja dari hatiku. Yang bicara saat itu bukan hanya mulut saja, tapi juga hati dan perasaan. Itulah yang sudah pasti terjadi saat hati dan perasaan tidak mampu menyembunyikan kegundahan. Kegundahan yang disebabkan oleh sebuah perpisahan.
Cerita ini tidak berakhir begitu saja. Sejak saat itu, aku sangat sering berandai-andai. Andai saja aku benar-benar adikmu. Pasti beruntung punya kakak seperti dirimu. Berkualitas, ramah, berwawasan luas, unik, dan Santun. Sayang sekali, kenyataannya berbeda. Aku ditakdirkan untuk tidak mempunyai hubungan saudara denganmu.
Langganan:
Komentar (Atom)