Minggu, 06 Agustus 2017

BINGUNG


                Semua ini menjadi sangat membingungkan. Keberadaanmu saat ini bukan di ibukota. Entah rencanamu yang berubah, atau kau sengaja tuk berdusta.
Sebelum kau pergi, kau keluar dari lingkaran yang besar tanpa bercerita padaku.
Sebelum kau duduk di kursi itu, aku bahkan tidak tahu kalau hari itu adalah hari terakhir untuk kita.
Lalu, aku mulai bingung saat satu kalimat perpisahan terucap dari bibirmu.
Aku baru bisa memahami semuanya saat ku putar badanku dan berjalan ke arah pintu.
Aku mengerti semuanya saat kau tak lagi menatap wajahku, dan aku tak lagi mendengar suaramu.
Hatiku mulai terasa berat saat ku tinggalkan tempat itu.
Kemudian, kau mulai ku beri beberapa pernyataan.
Sudah jelas, pernyataan itu menunjukkan bahwa aku mulai mengerti.
Saat itu aku mulai faham, kawan... tapi kau tetap menutupi.
Kau tutupi semuanya dengan sangat rapi.
Usaha yang bagus, tapi, bau bangkai itu pasti tercium juga.
Meskipun kau sembunyikan semua itu, aku tetap tahu. Hatiku tidak bisa dibohongi.
Karena pernyataan itu tidak membuatmu jujur, dengan terpaksa ku lontarkan sebuah pertanyaan. Pertanyaan tentang hari terakhirmu di kota ini.
Aku senang, kau akhirnya bicara. Sayang, kau tidak katakan alasannya.
Haruskah hari itu ku tanya mengapa? Memangnya aku ini siapa?
Ketahuilah, aku bukan wanita yang selalu ingin tahu. Aku berbeda.
Meskipun aku bingung dengan sikapmu, aku tetap diam dan tidak bertanya.
Tetap ku pertahankan gengsiku. Selamanya akan seperti itu.
                Belum selesai dengan sikapmu waktu itu. Hari ini, aku kembali kau buat bingung dengan sikapmu yang lain.
Tak perlu ku katakan apa yang telah kau lakukan. Kau sudah dewasa, pasti kau akan tahu.
Kau adalah calon kepala keluarga. Kau adalah calon imam bagi keluargamu nanti.
Jadi, tak perlu ku anggap dirimu sebagai botol kosong. Kau akan tahu kemana arah pembicaraanku.
Kawan, ketahuilah. Semua pihak sedang kau buat bingung saat ini. Tak hanya diriku.
Ternyata, kau tidak mengatakan yang sebenarnya pada semua pihak.
Dan sekarang, lihat. Kenyataan sudah terkuak.
Masihkah kau merahasiakan keberadaanmu sekarang?
Kawan, apakah berbohong telah menjadi hal biasa bagimu?
Sejauh ini, aku hanya berfikir positif terhadapmu. Tapi bagaimana dengan pihak-pihak lain?
Kawan, ketahuilah. Kebingungan lain sedang mencoba tuk menyelimuti hatiku.
Masih pantaskah aku berfikir positif terhadapmu?
Atau haruskah aku membencimu?
Haruskah ku lupakan betapa baiknya kualitasmu?
Tapi, tenang saja. Aku akan tetap mencoba tuk melawan kebingungan ini.
Aku akan tetap berfikir positif.
Semoga memang benar, kau tidak pernah berniat tuk berdusta.
Aamiin...